Salva, Tunggu Rindu Kembali
Oleh: Daniel Kaligis
SALVA berlari menyusur Rayong. Sejenak
cicipi Som Tum dan daging asap dekat Silverlake, kecut pedas seperti bekas
badai gelombang mendebur Gulf of Sayam.
Di sana, di bayang kemarau langit Khao Chi
Chan, kuberjanji menikahi musim. Bougainvillea menancap bisa durinya di
tapak-tapak pelarian. Songtaew hilir mudik di depan jidat. Karst menjulang.
Di sini bukan Trieste city. Hutan diseling
jutaan warna. Dan dari pucuk-pucuk
dedaun, bola jingga gapai samudera yang jauh, dan bukit – pada sudut pandang lain – samar
membiru pudar…
Sedikit catatan tentang Trieste dimuat
halaman wikipedia: kota kekaisaran bebas Trieste adalah wilayah Habsburg dari
abad empatbelas hingga tahun 1918. Dalam bahasa Jerman disebut
Reichsunmittelbare Stadt Triest und ihr Gebiet. Pada 1719 kota ini dinyatakan
sebagai pelabuhan bebas oleh Karl VI, Kaisar Romawi Suci. Pembangunan jalur
kereta api selatan Austria 1841 – 1857 mengubah kota ini menjadi pelabuhan
besar yang menjadi pintu masuk ekspor dan impor utama Austria.
Masih dari sumber yang sama. Trieste
merupakan bagian dari Kekaisaran Romawi Suci dan kemudian menjadi negara bagian
Konfederasi Jerman dan Küstenland di Austria – Hongaria. Pemerintahan dan
ekonomi kota didominasi warga Italia di Trieste; bahasa Italia menjadi bahasa pemerintahan.
Pada akhir abad sembilan belas dan awal
abad duapuluh, kota ini menarik para pendatang dari daerah pedalaman, kebanyakan adalah
orang-orang berbahasa Slovenia.
Kutandai percakapan masa silam. “I just love
that sound,” menanggap nada yang terurai 5 October 2011 at 07:49.a.m: DRIP,
mengembun awan-awan untuk kekeringan nan kekal di jiwa. Sungai-sungai global
menderu: issue, ism, privatisasi dan kabar basi. Rain drops from clouds and
onto trees, down the tree trunks and off the leaves, down a mountain, into a
brook.
Suara alam adalah lagu. Elang Pratapa memulai
diskusi jelang siang, 11.36.am. Penggalan lirik, desah nada penuh emosi. “Hanya
kita menyimpan mata jiwa,” sindir Elang. Kujawab dia: Apa kabarmu, Elang?
Sekian waktu tak sua kita. Mata hati, mata jiwa. I just love to watch the
drops. (At 16:50.pm)
Kau, menajamlah dari redup kabut.
Kutiru nyanyi Demis Roussos – Rain and Tears:
rain or tears both are shown, for in my heart there’ll never be a sun; rain and
tears are the same, but in the sun you’ve got to play the game…
Aku memang suka sajak-sajak. “Mengembun dalam kebasian, menderu dalam ketidakpastian.
Tarian air tak beriak. Angin malam
tersedu di balik pepohon korintang. Bumi tertegun, dengar satu, rindu tanah kelabu yang tetap
menggebu,” cetus Oppy AilSie 6 October 2011 at 11:04.am.
Hanyut angin, menderu samudera. Meresaplah
tiap bulir rindu bertalu dari negeri
jauh: di tiap dedaun gugur luruh kuberharap tumbuh benih-benih membirukan alam.
Setahun kemudian kutandai lagi. KNOWING:
pengarung senja, bekas tapak di bayang semak scyphiphora hydrophyllacea disapu
gelombang. Kini, ziarahmu pada sajak malam nan bising dalam ruang kaca: story
beterbangan di angin musim berganti. Ini sebuah kutipan,”darkness cannot drive
out darkness: only light can do that.”
Bagi sistem kita berbagi pesan. Pesan rindu
yang sekian lama ditabur: 2 October 2009 at 17:31.pm. Merdu retorika kemakmuran boleh jadi sudah menjauh.
Sistem haus hutang tuju jurang
kebangkrutan total berkepanjangan. Berapa banyak yang terus mengalir di arus hidup berkalang keraguan? Tilik
ruang rakyat: kedaulatan terpinggir,
sumber-sumber pangan sudah dipolitisir.
Revitalisasi sektor pertanian yang pernah dikuatsuarakan, kini tertimbun issue. Masa depan sebentar lagi lewat dalam
dengkur imajinasi abstrak.
Bemalia menyahut, “benih-benih liar dari
alam.”
Mengulang kembara di Khao Chi Chan, senja
teramat elok. Lebih enam puluh miles tenggara Bangkok, di kiri Jomtien Bay, di
kanan Naklua Bay. Phraya Tak membawa serdadunya melintas Ayatthaya tuju
Chanthaburi. Diketahui, Ayatthaya tunduk pada Burma 1767. Pasukan Phraya dengan
disiplinnya membuat gentar lawan, Nai Klom pernah mencegatnya, namum, gemetar
pada Thap Phraya, angin barat daya yang berhembus ke timur laut di awal musim
hujan.
Pattaya, lekat dengan nama Thap Phraya. Dusun
kecil yang dihuni nelayan. Tentara Amerika pernah bersenang-senang di sana
ketika perang Vietnam.
Di sini, di bawah langit Khao Chi Chan, debur
gelombang menampar sunyi. Orang-orang menyusur pantai menjingga oleh sore yang
uzur. Lalu rindu menjadi-jadi…
Sistem masih bias. Itu yang terngiang
sepanjang perjalanan. Kemakmuran adalah
cerita yang diulang-ulang dalam seminar-seminar
membosankan, yang panjang dan lama, sementara rakyat berjibaku dengan
issue dan hoax.
Gross domestic product Indonesia terbilang
861.3 billion USD tahun ini (2015). El Nino
dibilang terkuat dalam sejarah menyamai 1998. Kita tertidur di mimpi-mimpi bimbang, pemimpin-pemimpin yang
lebih banyak menularkan mimpi good
governance yang janggal dan tak pernah terpenuhi.
Dan, Salva, nama yang tercipta dari entah
untuk sebuah rindu menahun. Hari itu,
kemarau memanjang. Salva, menunggu rindu kapan kembali. (*)
#Journey #TwoRoadsDiverged — at Orchid
Wonderland.






Comments
Post a Comment