Perkebunan Karet dan Keadilan Bagi Masyarakat


DI ATAS bentang pasir, tanah datuk ditanami padi, mengganti hutan kerangas dan kantong semar. Angin pantai mendera Selinsing – Gantung, Belitung Timur.


Laut dan pantai nan elok, orang-orang yang datang dan pergi silih berganti. Derap pembangunan mengentara di wilayah itu. “Pemerintah sudah menetapkan rancang pembangunan ke depan yang baik bagi semua pihak, di mana wilayah kami boleh unggul di bidang industri, jasa, dan pariwisata berbasis kelautan dan pertanian,” tutur Matzani, Tokoh Masyarakat Belitung Timur.

Belitung Timur berada pada posisi geografis 02°30’– 03°15’ Lintang Selatan dan  107°45’ – 108°18’  Bujur Timur, berbatasan  dengan  tiga  laut, selat  dan  daratan  serta  terdiri  dari  puluhan  pulau  kecil.

Hutan kerangas dan lahan ekstrim ditanami habitus karet. Matzani bercerita bahwa masyarakat beroleh banyak manfaat ketika perkebunan itu mulai beroperasi. “Inisiasi PT. Mitra Alam Subur Jaya menggagas perkebunan karet bekerjasama dengan masyarakat sudah selaras dengan apa yang ditetapkan pemerintah untuk mendukung pertanian dan di masa mendatang akan memperkuat sektor industri,” urai Matzani.


Penghujung 2007 PT. Mitra Alam Subur Jaya mulai melaksanakan kegiatan. Masyarakat di Belitung Timur yang turut serta tetap sebagai pemilik lahan dengan perjanjian kerjasama yang sudah disepakati. Mereka menjadi anggota koperasi. Semua fasilitas anggota ditanggulangi perusahaan dengan pembagian hasil yang adil. “Kerjasama dengan masyarakat dituangkan dalam Memorandum of Understanding, fasilitas yang dapat dinikmati karyawan, yakni, Upah Minimum Sektoral Kabupaten, Jamsostek dan BPJS.”

Perkebunan karet dipilih sebab lebih menguntungkan masyarakat ketimbang sawit. “Dengan perbandingan luas sama, perkebunan karet akan lebih banyak menyerap tenaga kerja. Hal ini tentunya sudah matang direncanakan oleh pihak perusahan dengan banyak kajian yang menghasilkan data sekunder pengembangan perkebunan karet. Itulah sebabnya Balai Penelitian Sembawa Pusat Penelitian Karet Palembang mendukung kegiatan PT. Mitra Alam Subur Jaya dan ada sosialisasi yang terarah sehingga masyarakat mendukung dan terlibat dalam kegiatan ini,” kata Riswan, mantan karyawan PT. Mitra Alam Subur Jaya.

Penanaman sudah dimulai sejak 2008. Semestinya medio 2013 PT. Mitra Alam Subur Jaya, sudah dapat melangsungkan panen, hanya terkendala teknis. Sebagaimana diketahui, hasil dari perkebunan karet menjadi salahsatu baku paling banyak dibutuhkan industri untuk berbagai produk. Karet diolah dari bahan mentah berupa getah dengan proses tertentu. Di samping getah karet sebagai produk utama, ada produk sampingan yang dapat dimanfaatkan.



Getah karet adalah komoditas terkenal di tanah air dan sudah mendunia. Dan perkebunan karet tidak dimiliki semua negara di dunia. Itulah sebabnya negara kita yang punya potensi itu dengan lahan cukup luas bagi penanaman karet sangat berperan dalam menjalin kerjasama dengan berbagai negara yang berkebutuhan karet. Kerjasama ekonomi bisa dilakukan untuk mengembangkan industri karet murni dan produk jadi.

Di atas lahan masih tersisa kerangas, menanti upaya pemulihan dan penguatan yang berdampak pada pembangunan wilayah dan pada masyarakat secara luas. Kajian sekunder PT. Mitra Alam Subur Jaya, ke depan, perkebunan yang sudah berlangsung akan menyumbang bahan baku karet, secara alamiah berpotensi mengurangi emisi rumah kaca, dan dapat mendukung kinerja industri sintetis di indonesia. Di Belitung Timur, harap mengental, masyarakat berdaya, dan keadilan bagi semua. (*)

Bersambung...

Comments

Popular Posts